
Airlangga Raja Dyka Samudra
Eduaksi | Saturday, 13 May 2023, 22:10 WIB
Kesehatan gigi dan mulut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan semua kalangan pada era ini. Berdasarkan Global Burden of Disease Study 2019 Prevalensi orang memiliki penyakit mulut berkisar 3,5 miliar dengan didominasi penderita karies gigi permanen mencapai 2 miliar dan 520 juta anak menderita karies gigi sulung (Oral Health, 2022). Sedangkan, di tahun 2018 Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) terdapat 57,6% penduduk Indonesia mengalami masalah gigi dan mulut serta 10,2% yang telah mendapatkan pelayanan kesehatan.
Pada anak usia dini, prevalensi gigi berlubang berkisar 93% dan hanya 7% anak yang tidak memiliki permasalahan gigi berlubang. Dari uraian diatas, permasalahan gigi berlubang (Caries) menjadi dominan terhadap beberapa penyakit gigi dan mulut yang lain. Namun, penyakit seperti gingivitis dan periodontitis kerap kali menjadi permasalahan yang muncul tiap tahunnya. Beberapa penyakit tersebut disebabkan karena terjadinya akumulasi plak pada permukaan gigi. Plak gigi secara sederhana dapat diartikan sebagai deposit lunak yang melekat erat pada permukaan gigi karena hasil dari peningkatan substansial mikroorganisme yang bermetabolisme dalam suatu matrik interseluler. Plak akan mulai terbentuk pada sepertiga permukaan gingival dan permukaan gigi yang cacat dan kasar. Umumnya, plak muncul jika seseorang tidak memperhatikan kebersihan rongga mulutnya (Octaviani Rismanda Susanto et al., 2020). agar plak tidak tertimbun dan menyebabkan kerusakan jaringan pada rongga mulut, baik gigi itu sendiri ataupun jaringan sekitar gigi. Perlu adanya tindakan secara klinis yakni dengan scalling gigi. Tindakan tersebut bertujuan untuk merontokkan karang gigi yang melekat pada permukaan gigi
Selain itu, untuk mencegah terjadinya akumulasi plak pada gigi, perlu adanya kesadaran diri terhadap masing-masing individu dalam memperhatikan kesehatan gigi dan mulut mereka. Kebiasaan menyikat gigi dua kali sehari menjadi solusi dalam menekan pembentukan plak. Penggunaan Pasta gigi dan teknik menyikat gigi perlu diperhatikan juga guna mendapatkan hasil yang tepat pada permasalahan gigi kita. Seperti halnya produk skincare, kandungan dalam pasta gigi pun perlu dicermati karena penggunaan pasta gigi yang mengandung beberapa bahan aktif dapat mengabrasi permukaan gigi (enamel).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang berjudul “Perbandingan Efektivitas Berbagai Jenis Pasta Gigi Bahan Herbal dan Pasta Gigi Bahan Non Herbal Terhadap Pembentukan Plak” didapat kesimpulan bahwa pasta gigi herbal dan non herbal sama-sama memiliki kemampuan dalam menghambat terbentuknya plak. Namun, pada minggu ke-2 didapat penggunaan pasta gigi herbal memiliki penurunan indeks yang lebih besar dalam menghambat terbentuknya plak dibanding pasta gigi non herbal (Anggina & Ramayanti, 2018).
Dari uraian diatas, penggunaan pasta gigi herbal menjadi alternatif dalam mengatasi pembentukan plak. Salah satu bahan herbal yang umumnya digunakan beberapa produsen pasta gigi adalah Ekstrak Siwak.Pohon siwak (Salvadora persica) adalah tumbuhan yang banyak terdapat di daerah Timur Tengah (Amalia, et. al., 2018). Siwak berbentuk batang yang diambil dari akar dan ranting tanaman arak (Salvadora persica) yang berdiameter mulai dari 0,1 cm sampai 5 cm. Siwak sendiri sudah lama digunakan oleh bangsa Arab kuno sebagai pembersih gigi (Khairunnisa, 2021; Sofrata, 2011). Siwak memiliki beberapa bahan alami, diantaranya natrium klorida, kalium klorida, salvadora, asam oleat, asam linoleat, trimetilamina, tiosianat, Benzyl isothiocyanate, dan nitrat, silika, vitamin C, resin, tanin, saponin, N-benzyl-2 phenylacetamide, lignan, flavonoid, fluorida, kalsium, natrium bikarbonat dan salvadorian (Resmisari, 2021). Dalam kandungan tersebut terdapat efek antibakteri yang berasal dari dua kandungan zat utamanya; salvadorine dan Benzyl isothiocyanate. Beberapa peneliti melaporkan adanya efek antibakteri siwak terhadap bakteri kariogenik dan patogenperiodontal terutama spesies bacteroides dan kemampuan menghambat pembentukan plak (Wahyuni et al., 2021). Pemanfaatan kayu siwak yang mengandung senyawa antibakteri dapat digunakan sebagai alternatif dalam mengobati penyakit periodontal berupa infeksi yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus (Amalia et al., 2018). Selain antibakteri, kandungan yang terdapat dalam siwak mampu berfungsi sebagai antiinflamasi.
Berdasarkan hasil penelitian tentang kandungan siwak dalam menghambat pembentukan plak. indeks plak pada sampel saat sebelum dan sesudah menyikat gigi dengan siwak mengalami penurunan sebesar 0,79. Sedangkan penurunan indeks plak pada sampel saat sebelum dan sesudah menyikat gigi dengan sikat gigi sebesar 0,63. Hal ini menunjukkan bahwa pasta gigi yang memiliki kandungan siwak lebih efektif dalam menghilangkan plak dibandingkan dengan pasta gigi biasa (Harahap, 2018). Namun, studi yang dilakukan Mahasiswa kedokteran gigi di Arab Saudi kepada anak-anak sekolah Ethiopia menunjukkan bahwa penggunaan siwak yang berlebihan dapat menyebabkan resesi gingiva. (Musdalipah, 2021)
Oleh : Airlangga Raja Dyka Samudra – S1 Kedokteran Gigi Universitas AIrlangga
DAFTAR PUSTAKA
1. Anggina, D. N., & Ramayanti, I. (2018). Perbandingan Efektivitas
Berbagai Jenis Pasta Gigi Bahan Herbal dan Pasta Gigi Bahan Non Herbal
Terhadap Pembentukan Plak. Syifa’MEDIKA:Jurnal Kedokteran Dan
Kesehatan, 9(1), 1. https://doi.org/10.32502/sm.v9i1.117
2. Amalia, R., Marfu’ah, N., & Amal, S. (2018). Aktivitas antibakteri kayu
siwak (salvadora persica) fraksi eter terhadap bakteri staphylococcus
aureus secara in vitro. Pharmasipha: Pharmaceutical Journal of Islamic
Pharmacy, 2(1), 16- 21
3. Harahap, AA. 2018. Gambaran Membersihkan Gigi Memakai Kayu Siwak
dengan Menyikat Gigi Pakai Pasta terhadap Indeks Plak di MTs Teladan
Pekan Gebang Kecamatan Gebang Kabupaten Langkat. Medan:
Repository Poltekkes Medan.
4. Musdalipah. 2021. Efek Salvadora Persica sebagai Bahan Oral Hygiene
terhadap Penurunan Kolonisasi Pathogen Oral pada Pasien Ventilasi
Mekanik: a Systematic Review. Makassar: Repository Unhas.
5. Khairunnisa, A. L. (2021). PERBANDINGAN JUMLAH SEL
NEUTROFIL PULPA GIGI TIKUS SETELAH APLIKASI EKSTRAK
SIWAK (Salvadora persica) DAN BIODENTIN PADA PERAWATAN
KAPING PULPA (Doctoral dissertation, Universitas Islam Sultan Agung).
6. Octaviani Rismanda Susanto, N., Prasetyowati, S., Marjianto, A., &
Kesehatan Kemenkes Surabaya Jurusan Keperawatan Gigi, P. (2020).
EFEKTIVITAS PASTA GIGI HERBAL DAN NON HERBAL DALAM
MENURUNKAN INDEKS PLAK PADA SISWA SMP MIFTAHUL
ULUM SURABAYA TAHUN 2020. Jurnal Ilmiah Keperawatan Gigi,
1(2), 62–69. https://doi.org/10.37160/jikg.v1i2.531
7. Oral health. (2022, March 15). World Health Organization (WHO).
Retrieved October 20, 2022, from https://www.who.int/newsroom/fact[1]sheets/detail/oral-healt
8. Resmisari, R. S., Wicaksono, S. T., Alfiani, N., & Effendi, S. R. N. (2021,
April). Siwak (Salvadora persica) extract as a natural anti-halitosis mouth
spray. In IOP Conference Series: Earth and Environmental Science (Vol.
733, No. 1, p. 012131). IOP Publishing
9. Wahyuni, S., & Zainur, R. A. (2021, April). The Effectiveness of Siwak
(Salvadora Persica) Fibrous Chewing Gum Against the Amount of
Bacteria in Saliva. In First International Conference on Health, Social
Sciences and Technology (ICOHSST 2020) (pp. 176-178). Atlantis Press
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
Sumber:Republika





