
Dewi Agni Putri Syawalita
Agama | Wednesday, 03 May 2023, 21:56 WIB
Viralnya video dan foto-foto yang diunggah oleh akun @kepanitiaanzaytun menuai kontroversi yang menghebohkan warganet. Pasalnya video yang diunggah menampilkan pelaksanaan shalat idul fitri yang janggal. Dalam video terlihat jamaah yang bercampur hingga shaf yang dibuat berjarak. Padahal yang kita tahu, salah satu rukun shalat berjamaah adalah harus merapatkan shaf seperti yang terdapat pada sabda Nabi Muhammad SAW :
وتراصوا, فانيِّ اراكم من وراء ظهري
“luruskan shaf kalian dan hendaknya kalian saling menempel, karena aku melihat kalian dari balik punggungku” (HR. Al Bukhari no.719).
Dan wajib menempelkan kaki dengan kaki orang disebelahnya, serta pundak dengan pundak di sebelahnya. Inilah hakekat merapatkan shaf. Dari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
أقيموا الصفوف وحاذوا بين المناكب وسدوا الخلل ولينوا بأيدي إخوانكم ، ولا تذروا فرجات للشيطان ومن وصل صفا وصله الله ومن قطع صفا قطعه الله
“Luruskan shaf dan luruskan pundak-pundak serta tutuplah celah. Namun berlemah-lembutlah terhadap saudaramu. Dan jangan kalian biarkan ada celah untuk setan. Barangsiapa yang menyambung shaf, Allah akan menyambungnya. Barangsiapa yang memutus shaf, Allah akan memutusnya” (HR. Abu Daud no. 666, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud).
Wajib para makmum untuk merapatkan shaf dan tidak memutusnya, satu-satunya yang menjadi penghalang untuk memutus shaf adalah tiang masjid, sedangkan pada video yang beredar para makmum memutus shaf bukan karena terhalang tiang masjid. Hal lain yang menjadi sorotan adalah terdapat seorang laki-laki paruhbaya di samping Wanita yang duduk di kursi dan anehnya lelaki paruhbaya tersebut tidak seperti mengikuti gerakan shalat.
Bagaimana warganet tidak heran dan dibuat bertanya-tanya tentang video yang beredar tersebut, sedangkan yang menjalankan shalat ied seperti itu adalah pimpinan dan pengurus sebuah pondok pesantren besar dan cukup terkenal di Indonesia. Melihat pondok pesantrennya viral, para alumni pondok pesantren Al-Zaytun membuka suara terlebih dahulu dibandingkan pimpinan pondok pesantren tersebut. Seperti yang diunggah pada laman akun @alumnizaytun mereka menegaskan bahwa video yang viral tersebut bukan yang diajarkan kepada mereka selama mereka menempuh pendidikan disana karena selama mereka disana shalat berjamaah yang dilakukan masih normal seperti shalat berjamaah pada umumnya. Para alumni juga mengharapkan pimpinan-pimpinan segera melakukan klarifikasi terkait video dan foto yang beredar.
Hingga 26 April 2023 Kementrian Agama Kabupaten Indramayu mendatangi pondok pesantren tersebut untuk menemui pimpinan Mahad Al-Zaytun yaitu Syekh Panji Gumilang serta meminta penjelasan mengenai video yang beredar. Pimpinan Mahad tersebut menjelaskan bahwa ponpes yang dipimpinnya menggunakan dalil Surat Al-Mujadalah ayat 11 yang artinya:
Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Hal inilah yang menjadi alasan mengapa pada shalat ied kemarin ponpes Al-Zaytun tidak merapatkan shaf agar tidak berdesak-desakan. Pimpinan mahad Pondok Pesantren Al-Zaytun juga mengatakan bahwa mengikuti Mazhab Soekarno serta mengembangkan pemikiran revolusioner Ir. Soekarno mengenai Islam.
Terdengar aneh segala penjelasan yang disampaikan oleh Syekh Panji, karena sebenarnya tidak ada Mazhab Soekarno. Hal ini membuat dugaan bahwa selama ini Ponpes Al-Zaytun menjalankan aliran sesat. Seharusnya shalat dilaksanakan seperti bagaimana yang dijalankan oleh Rasulullah saja. Tidak perlu mengubah, menambah, atau mengurangi apa yang seharusnya menjadi syarat sah dan rukun shalat serta tidak menimbulkan kontroversi yang dapat menimbulkan asumsi warganet. Semakin banyak juga warganet yang mengaku sebagai alumni pondok pesantren disana buka suara tentang pondok pesantren ini cukup untuk menjadi alasan warganet yang lain menjadi ragu untuk memasukkan anak serta sanak saudaranya untuk menempuh pendidikan disana. Bahkan warganet juga mungkin bisa untuk mengusut lebih lanjut tentang bagaimana Pondok Pesantren ini dan jika pondok pesantren ini tidak bisa mematahkan asumsi warganet yang menduga bahwa ponpes ini menjalankan aliran sesat maka tidak menutup kemungkinan warganet bisa meminta pemerintah untuk menutup pondok pesantren ini jika tidak ada unsur politik di dalamnya. Mari kita doakan agar semua pihak yang terlibat di dalamnya mendapat pencerahan.
Referensi :
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
Sumber:Republika





